Electrical Engineer · AI Researcher
Expert in Power Systems & Distribution
Building intelligence for Indonesia's grid
10+ years in Indonesia's electricity sector. I specialize in power distribution, smart metering, and non-technical loss reduction — combining deep operational expertise with applied research in AI and machine learning.
Passionate about how digital technologies and AI can transform the way Indonesia's electrical infrastructure operates, from theft detection to satellite-based asset inventory.
The current 1:0.65 export ratio penalizes industrial prosumers while grid infrastructure remains underprepared for bidirectional flow. My research on the 21MW Bekasi case showed cumulative consumer loss of -$2,102 over two years under current policy. Indonesia needs dynamic net metering — not a static punitive multiplier.
Indonesia has 40% of the world's geothermal potential but utilizes less than 10%. The baseload stability of geothermal — paired with the right monetization model — could transform PLN's financial position. The EnerBit concept explores one path: using surplus capacity for regulated Bitcoin mining as an intermediate value capture while renewable buildout continues.
30 industrial customers in PLN Bekasi showed mid-peak demand elasticity of -0.3 — meaning they will shift load when the incentive is real. The math works out to 2.59% daily generation cost reduction across the Java-Madura-Bali interconnection. Dynamic pricing isn't complex to implement; it requires political will more than technology.
Countries with unstable fiat — Argentina, Turkey, Nigeria — aren't using Bitcoin as a medium of exchange; they're using it as a hedge against monetary policy failure. Indonesia's fiscal position is stronger, but the principle holds: states that hold Bitcoin early will have structural advantages over those that don't. El Salvador and Bhutan are running the experiment.
Classical Islamic scholars banned guaranteed returns on capital deployment because they distort risk distribution. Bitcoin, as a fixed-supply asset with no guaranteed yield, aligns more naturally with Islamic economic principles than fractional reserve banking. The debate isn't Bitcoin vs. gold — it's about what unit best represents productive economic participation without embedded exploitation.
Electricity subsidies in Indonesia exceed Rp 70 trillion annually, disproportionately benefiting wealthier consumers with larger consumption. A well-designed TOU + targeted subsidy system would be more equitable and fiscally sustainable. The political difficulty is real, but so is the cost of inaction as renewable transition accelerates globally.
Every digitalization wave in utilities builds better visualizations but doesn't close the loop to action. An operator sees a loss anomaly on a dashboard — then what? The next frontier is agentic AI that detects the anomaly, cross-references historical patterns, generates a work order, and notifies the field team — all without a human middle step. OctoAgent is my attempt to build that.
When an AI system makes a wrong recommendation that causes operational loss, who is responsible? The engineer who deployed it, the vendor, or the system itself? Until there are clear frameworks for AI accountability in government-linked companies, adoption will be slow regardless of capability. This is a governance problem before it's a technology problem.
Going from a 15% to 77% fraud detection hit rate wasn't because the model was brilliant — it was because human inspectors were working from intuition and social pressure while the model worked from patterns. ML doesn't get tired, doesn't know the customer personally, and doesn't fear conflict. The lesson: AI outperforms humans most where human judgment is biased by relationships.
Ketika lawan terbesarmu ada di kepalamu sendiri. Buku klasik karya W. Timothy Gallwey yang mengubah cara memandang performa dan penguasaan diri.
Baca selengkapnya →James Clear mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten. Perbaikan 1% setiap hari menghasilkan transformasi luar biasa.
Dari Marcus Aurelius hingga Ryan Holiday — bagaimana kebijaksanaan kuno membantu kita menghadapi ketidakpastian, tekanan, dan kegagalan dengan ketenangan.
Cal Newport berargumen bahwa kemampuan untuk bekerja dalam konsentrasi mendalam adalah skill paling berharga di abad ke-21. Distraksi adalah musuh kreativitas.
Carol Dweck membedakan fixed mindset dan growth mindset. Mereka yang percaya kemampuan bisa berkembang akan selalu mengungguli mereka yang percaya bakat adalah segalanya.
Konsep Jepang tentang menemukan titik temu antara apa yang kamu cintai, apa yang dunia butuhkan, apa yang bisa menghasilkan, dan apa yang kamu kuasai.
Penulis: W. Timothy Gallwey · Terbit pertama: 1974 · Edisi 50 Tahun dengan pengantar Bill Gates dan kata pengantar Pete Carroll
Ada buku yang mengajarkan teknik. Ada buku yang mengajarkan motivasi. Dan ada buku langka yang mengubah cara kamu memandang diri sendiri saat sedang melakukan apa pun yang penting. The Inner Game of Tennis karya Timothy Gallwey termasuk yang terakhir.
Meski judulnya menyebut tenis, jangan tertipu. Buku ini bukan tentang cara memukul forehand atau mengatur servis. Lapangan tenis hanyalah laboratorium yang dipilih Gallwey untuk menyelidiki satu pertanyaan yang jauh lebih besar: mengapa kita begitu sering menjadi penghalang terbesar bagi diri kita sendiri?
Sebagai pelatih tenis di Harvard pada awal 1970-an, Gallwey memperhatikan sesuatu yang aneh. Semakin keras ia mengoreksi muridnya, semakin buruk permainan mereka. Tapi ketika ia diam dan hanya meminta mereka mengamati sesuatu yang sederhana, performa mereka justru membaik tanpa instruksi apa pun.
Self 1 adalah sang pengkritik — suara di kepalamu yang tidak pernah berhenti bicara. Ia memerintah, membandingkan, menghakimi, dan terus-menerus mengomentari segalanya.
Self 2 adalah sang pelaku — tubuh, sistem saraf, dan kecerdasan bawah sadar yang sebenarnya sudah tahu cara melakukan pekerjaan. Self 2 yang mengajarimu berjalan tanpa membaca buku biomekanika.
Sebagian besar dari apa yang kita sebut "performa buruk" bukanlah karena Self 2 tidak mampu, melainkan karena Self 1 tidak mempercayainya dan terus mengganggunya.
Performa = Potensi − Interferensi
Selama ini kita diajari bahwa untuk tampil lebih baik, kita harus menambah sesuatu. Gallwey membalik logika ini: kamu sudah punya potensi yang jauh lebih besar daripada yang pernah kamu tampilkan. Yang menghalangimu bukan kekurangan kemampuan, melainkan kelebihan interferensi.
Berhentilah menjelaskan segalanya pada dirimu sendiri. Self 2 sudah tahu lebih banyak dari yang bisa dikatakan Self 1. Berikan ia ruang untuk bekerja.
Alih-alih berkata "pukulanku jelek", tanyakan: Di mana bola itu mendarat? Apa yang kurasakan? Begitu kamu mulai mengamati dengan jujur tanpa menghakimi, tubuhmu mulai memperbaiki dirinya sendiri.
Self 1 tidak akan diam hanya karena diminta. Trik Gallwey: beri ia pekerjaan konkret. Dalam tenis, muridnya mengatakan "bounce" saat bola memantul dan "hit" saat bola mengenai raket. Fokus pada sesuatu yang nyata membuat Self 1 terlalu sibuk untuk mengkritik.
"Membiarkan" bukan berarti pasif atau malas. Ia berarti memberi izin pada Self 2 untuk melakukan pekerjaannya sementara Self 1 berhenti mencampuri. Upaya tetap ada, tapi diarahkan pada momen, bukan pada kecemasan tentang hasil.
The opponent within one’s own head is more formidable than the one across the net.
The secret is not in trying harder, but in trying less.
Let it happen. Don’t try to make it happen.
When the mind is free of any thought or judgment, it is still and acts like a perfect mirror.
Dalam pekerjaan — berapa kali kamu merasa blank di tengah presentasi penting? Itu Self 1 mengambil alih. Dalam hubungan — berapa kali kamu merencanakan percakapan di kepala hingga saat momen itu tiba, kamu tidak bisa mendengarkan? Self 1 sedang sibuk menyutradarai.
Dalam belajar keterampilan baru — berapa kali kamu menyerah karena merasa "tidak berbakat", padahal kamu belum memberi Self 2 cukup ruang untuk mencoba tanpa dihakimi?
Seorang master bukan seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Ia adalah seseorang yang ketika membuat kesalahan, ia mengamatinya tanpa menghakimi, menyesuaikan tanpa panik, dan kembali ke momen sekarang.
Penguasaan tumbuh dari empat hal: kesadaran tanpa penghakiman, kepercayaan pada kapasitas alami, perhatian pada momen sekarang, dan kebebasan dari usaha untuk mengendalikan segalanya.
Hadiahnya adalah lebih sedikit gangguan di kepalamu, kesadaran yang lebih jernih, dan cara yang lebih alami untuk tampil di bawah tekanan — tanpa harus kehilangan dirimu sendiri dalam prosesnya.
Open to research partnerships, AI collaborations, consulting conversations, and anything about Indonesia's energy future.